Tata Cara Wudhu Sesuai Sunnah: Niat, Urutan, Doa, dan Hal yang Bisa Batalin

Sahabat Ngaji

Tata Cara Wudhu Sesuai Sunnah – Wudhu merupakan salah satu bentuk bersuci yang menjadi syarat sah Shalat. Meski dilakukan hampir setiap hari, masih ada beberapa hal yang sering nimbulkan pertanyaan: bagaimana niat wudhu yang benar, anggota tubuh mana yang wajib dibasuh, berapa kali membasuhnya, dan apa saja yang bisa batalin wudhu?

Memahami tata cara wudhu sesuai Sunnah Nabi Muhammad ﷺ membantu Sahabat Ngaji ngejalanin ibadah dengan lebih tenang dan harus merhatiin ketentuan Fiqih. Wudhu bukan sekadar membasahi anggota tubuh, tetapi ibadah yang memiliki rukun, ketentuan, dan adab.

Dalam artikel ini, pembahasan mengikuti ketentuan umum Fiqih Mazhab Syafi’i yang banyak dipelajari di Indonesia, dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Hadis. Perlu diingat, terdapat sejumlah perbedaan pendapat di antara ulama dalam beberapa perincian wudhu.

Pengertian Wudhu dan Dalilnya

Wudhu adalah bersuci gunain air yang suci dan disuciin dengan membasuh atau mengusap anggota tubuh tertentu sesuai ketentuan syariat. Wudhu udah jadi bagian penting dari persiapan untuk ngelaksanain Shalat dan ibadah lain yang ngewajipin dalam keadaan suci dari hadas kecil.

Dalil wudhu dalam Al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Yā ayyuhalladzīna āmanū idzā qumtum ilāṣ-ṣalāti faghsilū wujūhakum wa aidiyakum ilal-marāfiqi wamsaḥū biru’ūsikum wa arjulakum ilal-ka‘bain.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan Shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Ma’idah: 6)

Ayat ini ngejelasin anggota tubuh utama yang harus dibasuh atau diusap ketika berwudhu. Tata cara yang lebih terperinci dapat dipelajari melalui Hadis tentang praktik wudhu Rasulullah ﷺ.

Keutamaan wudhu

Wudhu memiliki nilai ibadah dan menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa kecil dengan izin Allah, sebagaimana yang udah dijelasin dalam Hadis sahih tentang keutamaan bersuci.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

Aṭ-ṭuhūru syaṭrul-īmān.

Artinya: “Bersuci adalah separuh dari iman.” (HR. Muslim)

Hadis itu nunjukin besarnya kedudukan bersuci dalam kehidupan seorang Muslim. Karena itu, wudhu sebaiknya dilakuin dengan memperhatiin ketentuan syariat sekaligus menjaga kebersihan dan ndak berlebihan gunain air.

Niat Wudhu dan Bacaan Sebelum Wudhu

Niat wudhu

Dalam Mazhab Syafi’i, niat termasuk salah satu rukun wudhu. Niat dilakuin di dalam hati ketika mulai membasuh wajah.

Sahabat Ngaji dapat munculin maksud berwudhu untuk hilangin hadas kecil atau agar diperbolehkan ngelaksanain ibadah yang ngewajipin wudhu.

Lafal niat berikut sering digunain untuk membantu nampilin maksud tersebut:

نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitul-wuḍū’a liraf‘il-ḥadaṡil-aṣghari farḍan lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Aku berniat berwudhu untuk hilangin hadas kecil, sebagai kewajiban karena Allah Ta’ala.”

Lafal ini ialah rumusan niat yang lazim diajarin dalam pembelajaran Fiqih. Niat tempatnya di hati, sehingga melafalkannya bukan syarat sah wudhu.

Membaca basmalah

Sebelum memulai wudhu, Sahabat Ngaji dianjurin membaca:

بِسْمِ اللّٰهِ

Bismillāh.

Artinya: “Dengan nama Allah.”

Membaca basmalah termasuk adab yang dianjurin dalam pembelajaran wudhu. Jangan sampai seseorang terlalu sibuk mengingat bacaan hingga sahabat ngaji abain rukun wudhu yang wajib dilakuin.

Urutan Tata Cara Wudhu yang Benar

Berikut langkah-langkah wudhu yang dapat dipraktekin dengan gabungin rukun wudhu dalam Mazhab Syafi’i dan Sunnah yang dikenal dalam Hadis.

1. Membasuh kedua telapak tangan

Basuh kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan, biasanya sebanyak tiga kali. Pastiin air menjangkau bagian tangan dengan baik.

Langkah ini termasuk Sunnah wudhu, bukan salah satu dari enam rukun wudhu dalam Mazhab Syafi’i.

2. Berkumur-kumur (madhmadhah)

Masukin air ke dalam mulut, lalu gerakin untuk membasahi bagian dalam mulut sebelum mengeluarkannya.

Berkumur-kumur termasuk Sunnah wudhu. Lakuin dengan wajar dan nggak berlebihan.

3. Bersiin hidung (istinsyaq dan istintsar)

Istinsyaq adalah memasukin air ke dalam hidung, sedangkan istintsar adalah mengeluarin air tersebut.

Lakuin secara hati-hati, terutama jika sedang berpuasa atau memiliki gangguan pada hidung. Memasukin air terlalu dalam ndak diperluin.

4. Membasuh wajah

Basuh seluruh wajah sesuai batas yang ditentuin dalam Fiqih, yaitu dari tempat tumbuh rambut kepala yang normal hingga dagu, serta dari sisi wajah di antara kedua telinga.

Pastiin air menjangkau bagian wajah yang wajib dibasuh. Jika terdapat janggut tipis yang ngeliatin kulit, kulit tersebut perlu terkena air. Untuk janggut tebal, terdapat perincian hukum dalam Fiqih.

Niat wudhu dilakuin ketika mulai membasuh wajah menurut Mazhab Syafi’i. Karena itu, langkah ini perlu mendapat perhatian khusus.

5. Membasuh kedua tangan hingga siku

Basuh tangan kanan hingga siku, kemudian tangan kiri hingga siku. Pastiin seluruh bagian yang wajib dibasuh terkena air, termasuk lipatan kulit dan area di sekitar siku.

Siku termasuk bagian yang wajib dibasuh. Jika terdapat cincin atau benda yang menghalangi air mencapai kulit, periksa apakah benda tersebut perlu digeser atau dilepas.

6. Mengusap sebagian kepala

Usap sebagian kepala dengan tangan yang basah. Dalam Mazhab Syafi’i, mengusap sebagian kecil rambut atau kulit kepala yang masih berada dalam batas kepala sudah memenuhi rukun ini, dengan ketentuan Fiqih yang berlaku.

Mengusap seluruh kepala rupain praktik yang juga dikenal dalam tata cara wudhu Nabi ﷺ. Sahabat Ngaji dapat melakukannya untuk mengikuti praktik tersebut.

7. Mengusap kedua telinga

Usap bagian luar dan dalam telinga gunain air yang sesuai untuk mengusapnya. Mengusap telinga termasuk Sunnah wudhu dalam Mazhab Syafi’i, bukan rukun tersendiri.

Lakuin dengan lembut dan jangan masukin jari terlalu dalam ke saluran telinga.

8. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki

Basuh kaki kanan, kemudian kaki kiri, sampai mata kaki. Pastiin air menjangkau bagian tumit, sela-sela jari kaki, dan area lain yang wajib dibasuh.

Tumit yang nggak kena air dapat nyebabin wudhu nggak sempurna. Karena itu, sahabat ngaji harus perhatiin bagian belakang kaki dan jangan cuma sekedar membasahi punggung kaki.

9. Menjaga urutan atau tertib

Dalam Mazhab Syafi’i, tertib berarti ngelakuin rukun wudhu sesuai urutannya: niat dan membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, lalu membasuh kedua kaki hingga mata kaki.

Urutan tersebut perlu dijaga karena tertib termasuk rukun wudhu dalam mazhab ini.

Rukun Wudhu dan Sunnah-Sunnahnya

Agar lebih mudah ngebedain hal yang wajib dan dianjurin, Sahabat Ngaji dapat melihat tabel berikut.

Rukun wudhu dalam Mazhab Syafi’iContoh Sunnah wudhu
NiatMembaca basmalah
Membasuh wajahMembasuh telapak tangan di awal
Membasuh kedua tangan hingga sikuBerkumur-kumur
Mengusap sebagian kepalaBersiin hidung
Membasuh kedua kaki hingga mata kakiMengusap kedua telinga
TertibMengulang basuhan anggota tertentu tiga kali

Membasuh anggota wudhu tiga kali ngerupain Sunnah yang dikenal dalam praktik wudhu Nabi ﷺ. Namun, membasuh anggota yang wajib satu kali secara merata sudah dapat memenuhi kewajiban, selama seluruh bagian yang harus terkena air benar-benar terbasuh.

Mengulang basuhan tiga kali bukan berarti harus gunain air secara berlebihan. Kesempurnaan wudhu perlu berjalan bersama sikap hemat dan ndak boros.

Doa Setelah Wudhu

Setelah selesai berwudhu, Sahabat Ngaji dianjurin membaca doa yang bersumber dari Hadis.

Bacaan doa setelah wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Doa ini diriwayatin dalam Sahih Muslim. Dalam riwayat tersebut, orang yang nyempurnain wudhu lalu membaca kesaksian ini mendapat kabar keutamaan dibukakannya delapan pintu surga baginya untuk dimasuki dari pintu yang dikehendaki.

Ada pula doa tambahan yang masyhur dibaca setelah wudhu:

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

Allāhummaj‘alnī minat-tawwābīna waj‘alnī minal-mutaṭahhirīn.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri.”

Doa tambahan ini dikenal dalam literatur Hadis dengan pembahasan mengenai jalur periwayatannya. Sahabat Ngaji dapat amalin doa yang bersumber jelas dan nggak perlu sahabat ngaji anggap seluruh tambahan bacaan populer memiliki derajat riwayat yang sama.

Hal-Hal yang Batalin Wudhu

Dalam Mazhab Syafi’i, terdapat empat kelompok utama perkara yang batalin wudhu.

  1. Keluar sesuatu dari qubul atau dubur. Contohnya buang air kecil, buang air besar, dan kentut.
  2. Hilangnya akal atau kesadaran. Misalnya pingsan atau mabuk. Tidur juga batalin wudhu, kecuali dalam keadaan tertentu yang dikecualikan dalam pembahasan Fiqih.
  3. Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dan keduanya telah mencapai usia yang secara umum menimbulkan syahwat, tanpa penghalang. Ketentuan dan pengecualiannya mengikuti perincian Mazhab Syafi’i.
  4. Menyentuh kemaluan manusia atau lingkaran dubur dengan bagian dalam telapak tangan atau jari secara langsung, tanpa penghalang, sesuai ketentuan Fiqih.

Perlu dipahami bahwa nggak semua hal yang dianggap kotor otomatis batalin wudhu. Misalnya, keluarnya darah dari luka nggak batalin wudhu menurut pendapat yang umum dalam Mazhab Syafi’i, meskipun darah tersebut tetap perlu dibersihin sesuai ketentuan bersuci.

Jika muncul keraguan semata-mata tanpa kepastian bahwa wudhu telah batal, jangan mudah menganggap wudhu rusak. Hukum asal keadaan suci tetap berlaku sampai terdapat sebab yang ngeyakinin.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Wudhu

Beberapa kekeliruan berikut perlu diperhatiin agar wudhu lebih sempurna.

Ndak ngeratain air

Bagian siku, tumit, sela-sela jari, atau lipatan kulit terkadang terlewat. Pastiin air menjangkau seluruh bagian yang wajib dibasuh.

Mengabaikan niat

Dalam Mazhab Syafi’i, niat merupakan rukun. Ngucapin niat tanpa ngehadirin maksud di dalam hati ndak gantiin kewajiban niat.

Menganggap seluruh Sunnah sebagai rukun

Berkumur-kumur, membasuh telapak tangan di awal, dan mengusap telinga merupakan Sunnah dalam Mazhab Syafi’i. Jangan sampai tertukar dengan enam rukun yang nentuin sahnya wudhu menurut mazhab ini.

Boros gunain air

Rasulullah ﷺ ngasi teladan bersuci dengan perhatiin waktu gunain air. Gunain air secukupnya dan hindari ngasi keran mengalir tanpa kebutuhan.

Mengabaikan kondisi khusus

Sahabat Ngaji yang memakai perban atau memiliki luka perlu memahami ketentuan bersuci sesuai kondisi. Dalam Fiqih terdapat keringanan terkait mengusap perban atau balutan tertentu, tetapi penerapannya bergantung pada keadaan luka, risiko bahaya, dan persyaratan mazhab. Untuk kasus yang rumit, mintalah arahan ustaz atau ahli Fiqih yang kompeten.

Tata Cara Wudhu bagi Perempuan dan Laki-Laki

Pada dasarnya, rukun dan urutan wudhu bagi laki-laki dan perempuan sama. Perbedaan kondisi nggak ngerubah kewajiban membasuh wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala, membasuh kaki hingga mata kaki, berniat, dan tertib.

Hal yang perlu diperhatiin antara lain:

  • Pastiin air dapat mencapai kulit yang wajib dibasuh.
  • Jika memakai kosmetik atau bahan pelapis, periksa apakah bahan tersebut menghalangi air.
  • Cat kuku atau lapisan kedap air perlu diperhatiin apabila menutup bagian kuku yang wajib terkena air.
  • Jika gunain perban atau balutan medis, ikuti ketentuan bersuci bagi orang yang memiliki uzur.

Wudhu juga nggak ngisaratin gunain air dalam jumlah banyak. Air yang suci dan nyuciin dapat digunain secara hemat selama anggota wudhu terbasuh sesuai ketentuan.

FAQ Seputar Tata Cara Wudhu Sesuai Sunnah

Apa saja rukun wudhu menurut Mazhab Syafi’i?

Ada enam rukun: niat, membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kedua kaki hingga mata kaki, dan tertib.

Apakah niat wudhu harus dilafalkan?

Nggak. Niat berada di dalam hati. Lafal niat boleh digunain buat ngebantu menghadirkan maksud, tetapi bukan syarat sah tersendiri.

Apakah wudhu harus dilakuin tiga kali pada setiap anggota?

Ndak harus. Mengulang basuhan hingga tiga kali merupakan Sunnah. Satu kali basuhan sudah mencukupi untuk anggota yang wajib dibasuh apabila seluruh bagiannya terkena air.

Apakah berkumur-kumur dan bersiin hidung wajib?

Dalam Mazhab Syafi’i, keduanya termasuk Sunnah wudhu, bukan rukun. Keduanya tetap dianjurin dalam praktik wudhu.

Apakah bersentuhan dengan pasangan batalin wudhu?

Dalam Mazhab Syafi’i, sentuhan langsung antara kulit laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, tanpa penghalang, juga bisa batalin wudhu apabila memenuhi ketentuan Fiqih. Rincian mengenai pasangan suami istri dan keadaan tertentu perlu dipahami sesuai pembahasan mazhab.

Bagaimana wudhu jika sedang memakai perban?

Jika perban diperluin untuk melindungi luka dan terkena air bisa nimbulin bahaya, terdapat ketentuan keringanan dalam Fiqih. Cara bersucinya bergantung pada kondisi medis dan rincian hukum yang berlaku. Mintalah panduan dari tenaga medis dan guru agama yang kompeten.

Rangkuman

Tata cara wudhu sesuai Sunnah perlu dipahami melalui dua hal: memenuhi rukun yang nentuin sahnya wudhu dan ngelaksanain Sunnah yang nyempurnain praktik bersuci.

Dalam Mazhab Syafi’i, perhatian utama terletak pada niat, membasuh wajah, membasuh kedua tangan hingga siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kedua kaki hingga mata kaki, serta tertib. Membaca basmalah, berkumur-kumur, bersihin hidung, mengusap telinga, dan mengulang basuhan tiga kali termasuk amalan yang dianjurin.

Sahabat Ngaji dapat ngebiasain diri memeriksa setiap anggota wudhu tanpa berlebihan gunain air. Jika menghadapi keadaan khusus atau persoalan yang memiliki perbedaan pendapat, pelajari penjelasan Fiqih yang tepercaya dan mintalah bimbingan kepada guru yang kompeten.

Dengan memahami dasar dan praktiknya, wudhu dapat dijalanin dengan lebih tertib, tenang, dan sesuai tuntunan syariat ya sahabat ngaji. Moga bermanfaat

Baca Juga

Sahabat Ngaji

Sahabat Ngaji juga merupakan Redaksi di Ngajipedia.id. Latar belakang pendidikan agama Islam, pengalaman belajar atau mengajar serta dalam mebaca Al-Qur’an, alumni PONPES Hikmatul Hasanah Sumber Kedawung, Leces - Probolinggo. Semua artikel disusun untuk membantu pembaca memahami tahapan belajar ngaji bagi pemula semoga ini menjadi sumber belajar yang tepat dan ladang pahala bagi kami.