Sebelum mempelajari tata cara wudu, Shalat, puasa, dan ibadah lainnya, seorang Muslim perlu mengenal dasar-dasar agama yang menjadi landasan kehidupannya. Inilah salah satu alasan Kitab Safinatun Najah menarik dipelajari: pembahasannya dimulai dengan pokok ajaran Islam dan keimanan sebelum berlanjut ke persoalan Fiqih sehari-hari.
Dalam kitab ini, Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami menjelaskan lima rukun Islam dan enam rukun iman. Jika dijumlahkan, terdapat sebelas rukun, bukan sepuluh. Rukun Islam berjumlah lima, sedangkan rukun iman berjumlah enam. Keduanya memiliki kedudukan berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membentuk kehidupan seorang Muslim.
Lalu, apa saja Rukun Islam Safinatun Najah dan rukun iman yang dijelaskan dalam kitab tersebut? Apa makna setiap rukunnya, dan bagaimana cara mempelajarinya sebagai bagian dari Fiqih dasar?
Mengenal Kitab Safinatun Najah dan Bab Awalnya
Safinatun Najah merupakan kitab ringkas yang membahas dasar-dasar agama dan Fiqih menurut Mazhab Syafi’i. Kitab ini disusun oleh Syaikh Salim bin Sumair Al-Hadhrami dan banyak dipelajari di lingkungan pesantren sebagai pengantar untuk memahami hukum-hukum ibadah.
Keistimewaannya terletak pada susunan materi yang ringkas. Pembaca diperkenalkan dengan pokok ajaran Islam, kemudian diarahkan untuk memahami persoalan praktis seperti bersuci dan Shalat.
Dalam bagian awalnya, terdapat pembahasan mengenai:
- Rukun Islam yang berjumlah lima.
- Rukun iman yang berjumlah enam.
- Makna kalimat tauhid Lā ilāha illallāh.
- Tanda-tanda balig.
- Pembahasan awal tentang bersuci dan ketentuan Fiqih lainnya.
Urutan tersebut membantu pelajar memahami bahwa ibadah bukan sekadar rangkaian gerakan atau bacaan. Ada dasar keimanan dan pemahaman agama yang perlu dipelajari agar pelaksanaan ibadah memiliki landasan yang benar.
Sahabat Ngaji dapat melihat susunan kitab yang dikutip melalui naskah Safinatun Najah beserta terjemahannya.
1. Lima Rukun Islam Menurut Safinatun Najah
Dalam matan Safinatun Najah, pembahasan rukun Islam dirangkum dalam satu fasal.
أَرْكَانُ الْإِسْلَامِ خَمْسَةٌ: شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامُ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ، وَصَوْمُ رَمَضَانَ، وَحَجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
Arkānul-islāmi khamsatun: syahādatu an lā ilāha illallāhu wa anna Muḥammadan rasūlullāh, wa iqāmush-ṣalāti, wa ītā’uz-zakāti, wa ṣaumu Ramaḍāna, wa ḥijjul-baiti manis-taṭā‘a ilaihi sabīlā.
Artinya, “rukun Islam ada lima: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, serta menunaikan haji ke Baitullah bagi yang mampu.”
Berikut penjelasan setiap rukunnya.
1. Syahadat
Syahadat merupakan kesaksian tentang keesaan Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Dua kesaksian ini menjadi dasar seseorang dalam memeluk dan menjalankan agama Islam.
Kalimat syahadat pertama menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Syahadat kedua menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan Allah yang membawa petunjuk bagi umat manusia.
Memahami syahadat tak cukup hanya dengan menghafalkan lafaznya. Seorang Muslim juga perlu mempelajari maknanya dan berusaha menjalankan ajaran Islam sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
2. Mendirikan Shalat
Shalat merupakan ibadah wajib yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat lima waktu menjadi kewajiban harian bagi Muslim yang memenuhi ketentuan syariat.
Dalam Fiqih, Shalat memiliki syarat, rukun, dan hal-hal yang membatalkannya. Karena itu, setelah mengenal kedudukannya sebagai rukun Islam, pelajar perlu mempelajari tata cara Shalat secara bertahap.
Safinatun Najah membantu pembaca mengenali dasar-dasar tersebut melalui pembahasan Fiqih yang tersusun ringkas.
3. Menunaikan Zakat
Zakat merupakan kewajiban mengeluarkan bagian tertentu dari harta sesuai ketentuan syariat. Ibadah ini berkaitan dengan ketaatan kepada Allah sekaligus kepedulian terhadap orang yang berhak menerima bantuan.
Tak semua harta otomatis wajib dizakati. Ketentuannya bergantung pada jenis harta, syarat wajib, serta ketentuan yang berlaku dalam Fiqih.
Karena itu, pembelajaran zakat perlu dilanjutkan dengan memahami jenis zakat, nisab, haul pada harta yang mensyaratkannya, serta golongan penerima zakat.
4. Berpuasa pada Bulan Ramadan
Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi Muslim yang memenuhi syarat. Pelaksanaannya dilakukan dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat sesuai ketentuan syariat.
Puasa tak hanya melatih pengendalian diri, tetapi juga mengajarkan kesabaran dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam pembelajaran Fiqih, materi puasa mencakup syarat wajib, rukun, hal-hal yang membatalkan, serta ketentuan bagi orang yang memiliki uzur.
5. Menunaikan Haji bagi yang Mampu
Haji adalah ibadah menuju Baitullah di Makkah dengan melaksanakan rangkaian amalan tertentu pada waktu yang telah ditetapkan.
Kewajiban haji berlaku bagi Muslim yang memenuhi syarat kemampuan (istitha’ah). Kemampuan ini ndak hanya berkaitan dengan biaya, tetapi juga memperhatikan kondisi dan ketentuan lain menurut syariat.
Dengan memahami rukun Islam kelima ini, Sahabat Ngaji dapat melihat bahwa Islam memberikan kewajiban sesuai ketentuan dan kemampuan yang diakui dalam agama.
2. Enam Rukun Iman Menurut Safinatun Najah
Setelah rukun Islam, Safinatun Najah menjelaskan enam rukun iman. Jika rukun Islam berkaitan dengan fondasi amalan utama, rukun iman berkaitan dengan keyakinan yang menjadi dasar kehidupan beragama.
Berikut teks matan yang membahas rukun iman:
أَرْكَانُ الْإِيمَانِ سِتَّةٌ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ تَعَالَى
Arkānul-īmāni sittatun: an tu’mina billāhi, wa malā’ikatihi, wa kutubihi, wa rusulihi, wal-yaumil-ākhiri, wa bil-qadari khairihi wa syarrihi minallāhi ta‘ālā.
Artinya, rukun iman ada enam: beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir baik dan buruk yang berasal dari Allah Ta’ala.
6. Iman kepada Allah SWT
Beriman kepada Allah berarti meyakini keberadaan dan keesaan-Nya serta meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang layak bagi-Nya.
Allah adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta. Keyakinan ini menjadi dasar penghambaan seorang Muslim, termasuk dalam menjalankan ibadah dan menjauhi larangan-Nya.
7. Iman kepada Malaikat
Malaikat merupakan makhluk Allah yang diciptakan untuk menjalankan tugas-tugas tertentu sesuai kehendak-Nya. Keberadaan malaikat termasuk perkara gaib yang wajib diimani berdasarkan wahyu.
Di antara malaikat yang dikenal dalam pembelajaran dasar Islam adalah Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail. Masing-masing dibahas dalam literatur keislaman berdasarkan dalil yang berkaitan dengan tugasnya.
8. Iman kepada Kitab-Kitab Allah
Seorang Muslim meyakini bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada rasul pilihan-Nya sebagai petunjuk bagi manusia.
Dalam pembelajaran dasar, kitab-kitab yang umum dikenal meliputi Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan menjadi pedoman utama umat Islam.
Keimanan kepada kitab-kitab Allah juga mendorong seorang Muslim untuk mempelajari Al-Qur’an, memahami kandungannya, dan berusaha mengamalkan petunjuknya.
9. Iman kepada Rasul-Rasul Allah
Iman kepada rasul berarti meyakini bahwa Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan wahyu dan membimbing manusia.
Nabi Muhammad ﷺ adalah rasul terakhir. Ajaran beliau menjadi pedoman bagi umat Islam dalam beribadah dan menjalani kehidupan.
Mengenal para rasul tak hanya bertujuan menghafal nama, tetapi juga mengambil pelajaran dari keteguhan, kejujuran, kesabaran, dan ketaatan mereka kepada Allah.
10. Iman kepada Hari Akhir
Hari akhir adalah kehidupan setelah dunia berakhir. Keimanan terhadap hari akhir mencakup keyakinan tentang kebangkitan, perhitungan amal, serta balasan Allah kepada manusia.
Keyakinan ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukan satu-satunya tujuan. Setiap perbuatan memiliki tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, iman kepada hari akhir semestinya mendorong seseorang menjaga perilaku, memperbaiki ibadah, dan menghindari perbuatan zalim.
11. Iman kepada Qada dan Qadar
Rukun iman keenam adalah meyakini qada dan qadar, yaitu ketetapan dan takdir Allah atas segala sesuatu sesuai ilmu dan kehendak-Nya.
Iman kepada takdir bukan alasan untuk berhenti berusaha. Seorang Muslim tetap diperintahkan melakukan ikhtiar, berdoa, dan memilih tindakan yang baik. Hasil akhirnya diserahkan kepada Allah.
Pemahaman ini membantu seseorang menghadapi keberhasilan maupun kesulitan dengan rasa syukur, kesabaran, dan tanggung jawab.
3. Perbedaan Rukun Islam dan Rukun Iman
Walaupun saling berkaitan, rukun Islam dan rukun iman memiliki fokus pembahasan yang berbeda.
| Aspek | Rukun Islam | Rukun Iman |
|---|---|---|
| Jumlah | Lima | Enam |
| Fokus | Amalan utama dalam Islam | Pokok keyakinan |
| Contoh | Syahadat, Shalat, zakat | Iman kepada Allah dan malaikat |
| Fungsi | Menjadi fondasi pelaksanaan ajaran Islam | Menjadi dasar keyakinan seorang Muslim |
Perbedaan tersebut bukan berarti keduanya dapat dipisahkan sepenuhnya. Keimanan menjadi dasar seseorang beribadah, sedangkan ibadah merupakan bagian dari pengamalan ajaran Islam.
Pemahaman yang baik terhadap keduanya membantu pelajar menghindari anggapan bahwa belajar agama cukup dengan menghafal daftar rukun tanpa memahami maknanya.
4. Mengapa Safinatun Najah Cocok untuk Belajar Fiqih Dasar?
Pembahasan rukun Islam dan rukun iman dalam Safinatun Najah merupakan pengantar sebelum masuk ke materi Fiqih yang lebih praktis.
Kitab ini dapat membantu pemula karena materinya disajikan secara ringkas dan terstruktur. Setelah memahami fondasi awal, pembaca dapat melanjutkan pembelajaran mengenai thaharah, wudu, mandi wajib, tayamum, Shalat, dan persoalan ibadah lainnya.
Namun, perlu dipahami bahwa pembahasan rukun iman dalam kitab ini bersifat ringkas. Jika ingin mendalami akidah, Sahabat Ngaji perlu mempelajari penjelasan guru dan rujukan akidah yang sesuai.
Tips Belajar Safinatun Najah bagi Pemula
Agar pembelajaran lebih terarah, lakukan beberapa langkah berikut.
- Pahami makna setiap rukun. Jangan berhenti pada hafalan nama atau urutannya.
- Baca teks Arab dan terjemahan. Jika sedang belajar kitab kuning, gunakan teks berharakat untuk membantu mengenali bacaan.
- Buat catatan ringkas. Tulis definisi, contoh penerapan, dan hal yang masih belum dipahami.
- Pelajari materi secara bertahap. Setelah memahami fondasi awal, lanjutkan ke bab thaharah dan Shalat.
- Belajar bersama guru. Penjelasan pengajar membantu meluruskan istilah dan menghindari salah pemahaman.
Dengan pola ini, belajar Fiqih dasar Safinatun Najah menjadi proses memahami ajaran, bukan sekadar menyelesaikan bacaan.
FAQ tentang Rukun Islam dan Rukun Iman dalam Safinatun Najah
Berapa jumlah rukun Islam dan rukun iman dalam Safinatun Najah?
Rukun Islam berjumlah lima dan rukun iman berjumlah enam. Jika dijumlahkan, terdapat sebelas rukun. Jadi, angka sepuluh pada judul bukan jumlah yang tepat untuk keseluruhannya.
Apa isi bab awal Safinatun Najah?
Bagian awalnya membahas rukun Islam, rukun iman, makna kalimat tauhid, dan tanda-tanda balig sebelum berlanjut ke pembahasan Fiqih, termasuk bersuci.
Apakah Safinatun Najah cocok untuk pemula?
Ya, kitab ini banyak digunakan untuk mengenalkan dasar-dasar Fiqih, khususnya dalam tradisi Mazhab Syafi’i. Pemula akan lebih terbantu jika belajar dengan terjemahan dan bimbingan guru.
Apa perbedaan rukun Islam dan rukun iman?
Rukun Islam berisi lima fondasi amalan utama, sedangkan rukun iman berisi enam pokok keyakinan. Keduanya saling melengkapi dalam kehidupan seorang Muslim.
Bagaimana cara memulai belajar Safinatun Najah?
Mulailah dengan memahami rukun Islam dan rukun iman, kemudian pelajari makna kalimat tauhid. Setelah itu, lanjutkan ke materi thaharah dan Shalat secara bertahap, dengan bantuan guru atau syarah yang tepercaya.
Kesimpulan
Pembahasan rukun Islam dan rukun iman dalam Kitab Safinatun Najah menjadi pengantar penting sebelum mempelajari hukum-hukum Fiqih yang lebih terperinci. Lima rukun Islam menjelaskan fondasi amalan utama, sedangkan enam rukun iman menerangkan pokok keyakinan seorang Muslim.
Keduanya perlu dipahami bukan hanya sebagai daftar yang dihafal, melainkan sebagai dasar untuk menjalani kehidupan beragama. Dengan mempelajari makna setiap rukun, membaca penjelasan yang tepercaya, dan belajar secara bertahap, Sahabat Ngaji dapat membangun pemahaman agama yang lebih terarah.
Safinatun Najah menjadi salah satu pintu masuk untuk memulai perjalanan tersebut, terutama bagi pelajar yang ingin mengenal dasar-dasar Fiqih dalam tradisi Mazhab Syafi’i. (SN)






